NEGERI UJUNG UTARA

NEGERI UJUNG UTARA
PWI REFORMASI

Selasa, 12 Juli 2011

Pengembangan East Natuna Tunggu JOA

JAKARTA - Konsorsium yang akan mengelola blok East Natuna saat ini masih menunggu perjanjian kerja sama operasi (joint operation agreement/]Oh) untuk menggarap blok tersebut


Saat ini, konsorsium baru memasuki tahap penandatanganan pokok-pokok perjanjian {head of agreement/Hoh). Konsorsium yang akan menggarap blok dengan cadangan gas terbesar di Asia tersebut adalah, PT Pertamina, ExxonMobil Corp, Total SA, dan Petro-liam Nasional Berhad (Petronas).


"Sejauh ini belum ada kemajuan di East Natuna. Kami baru memasuki tahap menanti penandatanganan JOA. Setelah penandatanganan JOA berlangsung, masih ada tahapan dan proses yang mesti dilewati," kata juru bicara Pertamina Mochamad Harun kepada Investor Daily, di Jakarta, Minggu (9/1).


Harun mengatakan, dalam kesepakatan antara Pertamina dengan Total, ExxonMobil, dan Petronas, pihaknya tidak mengharuskan para mitra supaya menyerahkan asetnya sebagai syarat untuk menjalin kerja sama pengelolaan East Natuna.


"Kami belum bisa menyampaikan berapa nilai aset yang mereka tawarkan. Tidak hanya mereka yang menyerahkan asetnya untuk mengelola blok tersebut, tapi kami juga menyetorkan modal kami," ujar dia.
Menurut Harun, nilai aset yangditawarkan para mitra tersebut dipastikan dapat meningkatkan kinerja dan pendapatan perseroan pada masa mendatang.


Tang pasti, Pertamina adalah pemegang saham terbesar di East Natuna. Namun, saya belum bisa mengatakan besaran sahamnya untuk masing-masing perusahaan, apalagi saham Pertamina," jelas dia.


Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, pihaknya beserta mitra di East Natuna menyiapkan dana sedikitnya US$ 500 jute atau setara Rp 4,5 triliun sebagai tahap awal pengembangan blok yang berlokasi di Kepulauan Riau tersebut


Karen mengungkapkan, dana itu akan digunakan untuk studi kelayakan tahap awal. "Pengucuran dana dilakukan setelah pembagian komposisi pemegang saham melalui kontrak bagi hasil [production sharing contract/PSC) selesai dilakukan," kata dia.

Karen menjelaskan, pascapenan-datanganan HoA dengan ketiga mitra, pihaknya akan membahas pola komersial (commercial terms) secara mekanisme bisnis (business to business).

"Setelah itu baru dibicarakan masalah terms dengan pemerintah secara konsorsium, untuk nanti dilanjut ke JOA dan PSC." ujar dia.


Menurut Karen, perseroan akan menggunakan dana internal dalam pengembangan tahap awal di East Natuna. Dia menambahkan, setelah semua masalah perizinan dan studi dilakukan, pihaknya berharap produksi pertama (on stream) East Natuna bisa terlaksana dalam 10 tahun ke depan, setelah semua perjanjian dirampungkan.


Blok East Natuna semula bernama blok Natuna D Alpha. Blok itu ditaksir memiliki potensi gas mencapai 222 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/ tcf). Namun, dari jumlah tersebut hanya sekitar 46 tcf gas yang bisa dihasilkan, karena tingginya kandungan karbon dioksida (COJ. yakni hingga mencapai 70%. Pengembangan East Natuna ditaksir membutuhkan dana sekitar US$ 30-50 miliar, (did)

http://bataviase.co.id/node/524999

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RSS FEED