http://www.tribunnews.com/2010/11/01/minimnya-alat-transportasi-di-anambas
Ditulis Riky Rinovsky, Jurnalis Perbatasan Indonesia
ANAMBAS- Sebagai kabupaten baru yang kaya sumber daya alam, Anambas masih sangat kekurangan alat transportasi laut. Kabupaten yang baru mekar dari Natuna 2008 tersebut sekitar 96 persen terdiri dari perairan.
Walau memiliki potensi pariwisata dan perikanan luar biasa besar, namun di kabupaten ini masih sangat minim alat trasportasi laut. Padahal letak geografisnya berbatasan langsung dengan negeri tetangga.
Saking jauhnya dari wilayah lain, untuk menempuh perjalanan laut dari Anambas ke Tanjungpinang (ibukota Kepri) memerlukan waktu 9 jam dengan kapal berukuran sedang dan besar atau kecepatan 10 knot. Kapal kecil jarang berlayar karena ombak sangat besar.
Pada Rabu pekan kemarin, tampak ada KM Trigas 3, sebuah kapal kargo berukuran 50 meter dengan cat warna putih dan hijau kusam mendarat di dermaga Tarempa. Kapal buatan Jepang tahun 1995 itu baru tiba dari Tanjungpinang dengan mengangkut kebutuhan pokok atau sembako.
Sedikitnya ada 10 orang buruh angkut dengan dua buah gerobak dorong, membongkar muatan barang pada kapal. Umumnya adalah bahan kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng dan kebutuhan pokok warga Anambas lainnya.
Usai bongkar muat, sekitar pukul 17.00 WIB, kapal menaikkan jangkar dan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Midai, Sedanau, Pulau Laut, Natuna (Kepri) hingga Pontianak (Kalimantan). Inilah rutinitas rute perjalanan yang ditempuh Trigas 3 secara pulang pergi dari dan ke Tanjungpinang.
Sebagai kapal perintis, KM Trigas 3 memiliki panjang 50 Meter dengan lebar 9 Meter serta tinggi 20 Meter. Kapal ini dibawah naungan PT Anugrah Trigas Bahari (ATB).
Perusahaan pelayan inilah yang setia melintas pulau-pulau di perbatasan utara Indonesia sejak tahun 80 an. Dan hingga kini, warga di pulau-pulau di perbatasan, masih setia menggunakan jasa kapal laut tersebut.
PT ATB sendiri berkantor di Kalimantan. Perusahaan ini telah melahirkan 9 unit kapal yang kesemuanya diberi nama KM Trigas 1-9. Namun oleh warga masyarakat pengguna jasa kapal ini, Trigas disebut kapal Perintis. Dan kapal-kapal tersebut, beroperasi tersebar di pulau terpencil seperti Mentawai, Bengkulu, Tringano serta Riau.
Atas jasanya melakukan trayek pulau-pulau ini, ATB pernah mendapatkan pengharaan Presiden SBY. Penghargaan diberikan pada tahun 2006, atas kesetianya melayani masyarakat di perbatasan Indonesia yang dilakukan secara berkala dan kontinyu.
Meski secara fisik, KM Trigas 3 terlihat sedikit usang dan terdapat karatan serta dempulan yang dilumuri warna cat pada bodi kapal, tetapi KM Trigas tetap memenuhi prosedur keselamatan kapal.
Di dalam kapal terdapat 30 unit pelampung yang dipasang di depan dek sebelah atas atap terpal. Ditambah dengan sebuah perahu yang disangkutkan di samping badan kapal dekat cerobong asap sebelah kanan.
"Itu semua juga dilengkap dengan P3K" ujar Kapten kapal, Yohanes.
Ia menjelaskan untuk personil, Trigas 3 memiliki 20 orang kru. Mereka dibagi menjadi 3 shift dalam bertugas atau 4 jam sekali pergantian. Trigas 3 sendiri dilengkapi 8 kamar tidur kru serta kapten. Di ruang kemudi terdapat kompas, radar serta alat pengukur kecepatan kapal.
Menurutnya, secara umum, ruang kemudi tidak boleh dimasuki orang lain, selain petugas. Sayang, ia mengaku tidak dapat melarang penumpang Trigas 3, untuk tidak memasuki ruangan yang hanya berukuran 5 x 7 meter tersebut.
"Saya tidak bisa melarang penumpang masuk ke ruangan kemudi. Apalagi, KM Trigas 3 sebenarnya bukan kapal penumpang, melainkan barang. Tetapi, sebagai sarana transportasi laut ke pulau-pulau yang sulit dijangkau kapal penumpang, masyarakat diberi kelonggaran untuk ikut berlayar bersama, dikenakan tiket Rp 100 ribu per orang," imbuhnya.
Yohanes ditemani Chief Officer, Luardi, menuturkan bahwa terkadang, rasa duka jauh dari keluarga masih harus ditambah dengan kondisi cuaca tidak bersahabat seperti hujan dan badai.
Karena itu, mereka kewalahan mengatur jadwal keberangkatan dan kedatangan kapal, termasuk menjaga dengan baik barang-barang titipan yang harus diantar ke daerah tujuan.
Dijelaskan, secara umum, cuaca buruk terjadi pada pertengahan Agustus hingga November. Pada bulan tersebut, kondisi perairan Laut Cina Selatan, diterpa angin Utara yang bertiup sangat kencang.
KM Trigas sejak dulu menjadi andalan warga pulau-pulau terluar, karena kapal berbobot 700 GT itu, setia menghampiri setiap dermaga pulau terluar. Misalnya, Pulau Laut yang masuk daerah terluar Indonesia.
Aminah, seorang penumpang Trigas 3 mengungkapkan bahwa dalam perjalanan, para penumpang tidur di luar di samping body kapal dengan hanya beralaskan kardus mie instan, dengan melawan derunya angin laut. Ia mengaku bersyukur, jika dalam perjalanan tidak turun hujan.
"Kalau hujan, ya jelas kita semua basah kuyup. Inilah risiko yang diterima penumpang. Tetapi itu harus dijalani daripada tidak ada kapal,” terangnya.
Menurutnya, sebelum adanya KM Bukit Raya yang menjalani rute yang sama, tidak ada alternatif lain bagi masyarakat pulau. Karena itu, tidaklah berlebihan jika KM Trigas merupakan penyelamat bagi masyarakat pulau.
Memang ujarnya, selalu saja ada tawaran kamar dari ABK kapal. Harganya tergantung kesepakatan sebelumnya. Sebagai contoh, untuk perjalanan dari Anambas ke Sedanau, ABK meminta imbalan Rp 150 ribu.
Karena itu, ia meminta pemerintah baik pusat maupun daerah, agar memperhatikan sarana transportasi laut tersebut mengingat merupakan akses lalu-lintas masyarakat pulau.
"Perlu dianggarkan kapal rakyat yang bisa dijadikan solusi dalam mengatasi sarana transportsasi masyarakat pulau. Selain itu, tentu untuk menunjang ekonomi masarakat,” tuturnya. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar